Senin, 10 Desember 2012

Makalah Psikologi Perkembangan Remaja tentang Perkembangan Kemandirian Remaja


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kemandirian menunjuk pada adanya kepercayaan akan kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tanpa bantuan orang lain, tanpa dikontrol oleh orang lain, dapat melakukan kegiatan dan menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapinya.

A.      Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu selain sebagai tugas kelompok mata kuliah Psikologi Perkembangan Remaja, juga untuk mengetahui tentang bagaimana perkembangan kemandirian pada remaja.

B.       Rumusan Masalah

1.      Apakah yang dimaksud dengan kemandirian remaja?
2.      Bagaimanakah perkembangan kemandirian remaja?
3.      Apakah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kemandirian remaja?
4.      Permasalahan apakah yang terkait dengan perkembangan kemandirian remaja?


BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Kemandirian Remaja
                  Dalam Bahasa Indonesia, kata “mandiri” diartikan sebagai suatu keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain. Kata “kemandirian” adalah kata benda dari kata mandiri yang diartikan sebagai hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Kemandirian menunjuk pada adanya kepercayaan akan kemampuan diri sendiri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tanpa bantuan orang lain, tanpa dikontrol oleh orang lain, dapat melakukan kegiatan dan menyelesaikan sendiri masalah-masalah yang dihadapinya. Selanjutnya, dengan mengutip pendapat Johnson dan Medinnus, (Widjaja, 1986) menjelaskan bahwa kemandirian merupakan salah satu ciri kematangan yang memungkinkan seorang anak berfungsi otonom, berusaha ke arah terwujudnya prestasi pribadi dan tercapainya suatu tujuan.
                  Dalam istilah psikologi, kata mandiri dipadankan dengan kata otonomi (autonomy). Senada dengan pendapat di atas, secara singkat Chaplin (1997) dalam Kamus Psikologi memberikan arti kata autonomy sebagai keadaan pengaturan diri, atau kebebasan individu manusia untuk memilih, menguasai dan menentukan dirinya sendiri.
                  Dari beberapa pengertian kemandirian di atas, diambil suatu pengertian bahwa secara substansial kata mandiri/kemandirian dan kata otonomi (autonomy) mempunyai kata kunci yang sama yakni terlepas dari ketergantungan pada orang lain, mempunyai tanggung jawab pribadi serta mampu melaksanakan segala sesuatunya oleh dirinya sendiri.
                  Fasick dalam Rice (1996: 45) mengatakan: “one goal of every adolescent is to be accepted as an autonomous adult”. Dengan demikian, maka kemandirian merupakan salah satu aspek yang gigih diperjuangkan dan diidamkan oleh setiap para remaja. Tuntutan adanya separasi (separation) atau self-detachment dari para remaja terhadap orangtua atau keluarganya semakin tinggi, hal ini sejalan dengan memuncaknya proses perubahan fisik, kognisi, afeksi, sosial, moral dan mulai matangnya pribadi para remaja saat memasuki masa dewasa awal, dan berkembangnya kebutuhan akan kemandirian (autonomy) dan pengaturan diri sendiri (self directed) dari para remaja.
                  Pengertian kemandirian berasal dari kata dasar diri yang mendapatkan awalan ke dan akhiran an yang kemudian membentuk suatu kata keadaan atau kata benda. Karena kemandirian berasal dari kata dasar diri, pembahasan mengenai kemandirian tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai perkembangan diri itu sendiri, yang dalam konsep Carl Rogers disebut dengan istilah Self (Brammer dan Shostrom, 1982) karena diri itu merupakan inti dari kemadirian. Kalau menelusuri berbagai literature, sesungguhnya banyak sekali istikah berkenaan dengan diri. Sunaryo Kartadinata (1988) berhasil menginventarisasi sejumlah istilah yang dikemukakan para ahli yang makna dasarnya relevan dengan diri, yaitu self determinism (Emil Durkheim), autonomous morality (Jean Piaget), ego integrity (Erick E. Erickson), the creative self (Alfred Adler), self-actualization (Abraham H. Moslow), self-system (harry Stack Sullivan), real-self (Caren Horney). Self-efficiacy (Albert Bandura), self-expansion, self-esteem, self-pity, self-respect, self-sentience, self-sufficiency, self-expression, self-direction, self-structure, self-contempt, self-control, self-righteousness, self-effacement (Hall dan Linzey).

B.   Factor Yang Dapat Mempengaruhi Perkembangan Kemandirian Anak Dan Remaja
            Kemandirian merupakan aspek yang berkembang dalam diri setiap orang, yang bentuknya sangat beragam, pada tiap orang yang berbeda, tergantung pada proses perkembangan dan proses belajar yang dialami masing-masing orang. Ada banyak factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian anak, namun ada beberapa factor yang sangat berperan banyak dalam membentuk kemandirian anak.
1)      Gen atau keturunan orang tua. Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun, factor keturunan ini masih menjadi persebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesunguuhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya itu menurun kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasrkan cara orang tua mendidik anaknya.
2)      Pola asuh orang tua. Orang tua yang terlalu banyak melarang atau mengeluarkan kata jangan kepada anaknya tanpa disertai dengan penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian.
3)      Sistem pendidikan disekolah. Proses pendidikan disekolah yang tidak mengembangkan demokrasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinisasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja.
4)      Sistem kehidupan dimasasyarakat. Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur social, merasa kurang aman atau mencekam serta kurang mengahargai manifestasi potensu remaja dalam kegitan prosuktif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remaja.

C.   Tipe-tipe Perkembangan kemandirian Pada Anak dan Remaja
                  Perlu kita kita ketahui bahwa kemandirian dilihat dari beberapa aspek seperti yang dikemukakan oleh Havighurst (1972), yang menyatakan bahwa kemandirian memiliki beberapa aspek, yaitu:
1. Aspek Intelektual, yang merujuk pada kemampuan berpikir, menalar, memahami beragam kondisi, situasi, dan gejala-gejala masalah sebagai dasar usaha mengatasi masalah.
2. Aspek Sosial, berkenaan dengan kemampuan untuk berani secara aktif membina relasi sosial, namun tidak tergantung pada kehadiran orang lain di sekitarnya.
3. Aspek Emosi, menunjukkan kemampuan individu untuk mengelola serta mengendalikan emosi dan reaksinya, dengan tidak tergantung secara emosi pada orang tua.
4. Aspek Ekonomi, menujukkan kemandirian dalam hal mengatur ekonomi dan kebutuhan-kebutuhan ekonomi, dan tidak lagi tergantung pada orang tua.
                  Steinberg (1995 : 289) membagi kemandirian dalam tiga tipe, yaitu: kemandirian emosional (emotional autonomy), kemandirian behavioral (behavioral autonomy), dan kemandirian nilai (values autonomy).
1)      Kemandirian Emosional
                  Kemandirian emosional dapat diartikan sebagai kemampuan individu dalam mengelola emosinya, seperti pemudaran ikatan emosional anak dengan orang tua. Percepatan pemudaran hubungan itu terjadi seiring dengan semakin mandirinya remaja dalam mengurus diri sendiri. Dalam analisis Berk (1994) konsekuensi dari semakin mampunya remaja mengurus dirinya sendiri maka waktu yang diluangkan orang tua terhadap anak semakin berkurang dengan sangat tajam. Proses ini sedikit besarnya memberikan peluang bagi remaja untuk mengembangkan kemandiriannya terutama kemandirian emosional. Disamping itu, hubungan antara anak dan lingkungan sebaya yang lebih intens dibanding dengan hubungan anak dengan orang tua menyebabkan hubungan emosional anak dan orang tua semakin pudar. Kedua pihak ini lambat laun akan mengendorkan simpul-simpul ikatan emosional infantil anak dengan orang tua (Steinberg, 1995 : 290). Namun ini bukan berarti anak akan melakukan pemberontakan terhadap orang tua, ini hanya masalah kedekatan yang berbeda, memudar bukan berarti pupus tak bersisa, walau bagaimanapun ikatan batin tetap akan terjalin antara anak dan orang tua.
                  Menurut Silverberg dan Steinberg (Steinberg, 1995 :291) ada empat aspek kemandirian emosional remaja, yaitu:
1. Sejauh mana remaja mampu melakukan de-idealized terhadap orang tua,
2. Sejauh mana remaja mampu memandang orang tua sebagai orang dewasa umumnya (parents as people),
3. Sejauh mana remaja tergantung kepada kemampuannya sendiri tanpa mengharapkan bantuan emosional orang lain (non dependency), dan
4. Sejauh mana remaja mampu melakukan individualisasi di dalam hubungannya dengan orang tua.
                  Aspek pertama dari kemandirian emosional adalah  de-idealized,  yakni kemampuan remaja untuk tidak mengidealkan orang tuanya. Perilaku yang dapat dilihat ialah remaja memandang orang tua tidak selamanya tahu, benar, dan memiliki kekuasaan, sehingga pada saat menentukan sesuatu maka mereka tidak lagi bergantung kepada dukungan emosional orang tuanya. Menurut penelitian yang dilakukan Smollar dan Younis tahun 1985 (Steinberg, 1995 : 292) tidak mudah bagi remaja untuk melakukan  de-idealized. Bayangan masa kecil anak tentang kehebatan orang tua tidak mudah untuk dilecehkan atau dikritik.  Kesulitan untuk melakukan  de-idealized remaja terbukti dari hasil riset yang dilakukan Steinberg (1995 : 193)   yang menemukan bahwa masih banyak remaja awal yang sudah mandiri secara emosional. Mereka masih menganggap orang tua selamanya tahu, benar, dan berkuasa atas dirinya. Mereka terkadang sulit sekedar untuk menerima pandangan bahwa orang tua terkadang melakukan kesalahan.
                  Aspek kedua dari kemandirian emosional adalah pandangan tentang parents as people, yakni kemampuan remaja dalam  memandang orang tua sebagaimana orang lain pada umumnya. Perilaku yang dapat dilihat ialah remaja melihat orang tua sebagai individu selain sebagai orang tuanya dan berinteraksi dengan orang tua tidak hanya dalam hubungan orang tua-anak tetapi juga dalam hubungan antar individu. Menurut Steinberg (1995 :  291) remaja pada tingkat SMA tampak mengalami kesulitan dalam memandang orang tua sebagaimana orang lain pada umumnya. Dalam analisisnya aspek kemandirian emosional ini sulit berkembang dengan baik pada masa-masa remaja, mungkin bisa sampai dewasa muda.      
                  Aspek ketiga dari kemandirian emosional adalah  nondependency, yakni suatu derajat di mana remaja tergantung kepada dirinya sendiri dari pada kepada orang tuanya untuk suatu bantuan. Perilaku yang dapat dilihat ialah mampu menunda keinginan untuk segera menumpahkan perasaan kepada orang lain, mampu menunda keinginan untuk meminta dukungan emosional kepada orang tua atau orang dewasa lain ketika menghadapi masalah. Aspek keempat dari kemandirian emosional pada remaja adalah mereka memiliki derajat individuasi dalam hubungan dengan  orang tua (individuated). Individuasi berarti berperilaku lebih bertanggung jawab. Perilaku individuasi yang dapat dilihat ialah mampu melihat perbedaan antara pandangan orang tua dengan pandangannya sendiri tentang dirinya, menunjukkan perilaku yang lebih bertanggung jawab. Contoh perilaku remaja yang memiliki derajat individuasi di antaranya mereka mengelola uang jajan dengan cara menabung tanpa sepengetahuan orang tua.  Collins dan Smatana (Steinberg, 1995 : 293) berkeyakinan bahwa perkembangan individuasi ke tingkat yang lebih tinggi didorong oleh perkembangan kognisi sosial mereka. Kognisi sosial remaja yang dimaksud merujuk  pada  pemikiran mereka tentang diri mereka dan hubungannya dengan orang lain. Misalnya, remaja berpandangan “Teman saya berpendapat bahwa saya adalah seorang gadis baik, maka saya harus menjadi gadis yang baik”.
2)      Kemandirian Behavioral
                  Kemandirian perilaku (behavioral autonomy) merupakan kapasitas individu dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan tanpa ada campur tangan dari orang lain. Tapi bukan berarti mereka tidak memerlukan masukan dari orang lain, mereka akan menggunakan maskukan tersebut sebagai referensi baginya dalam mengambil keputusan.
                  Menurut Steinberg (1993 : 296) ada tiga domain kemandirian perilaku (behavioral autonomy) yang berkembang pada masa remaja yaitu:
                  Pertama, mereka memiliki kemampuan mengambil keputusan yang ditandai oleh:
a.       Menyadari adanya resiko dari tingkah lakunya.
b.      Memilih alternatif pemecahan masalah didasarkan atas pertimbangan sendiri dan orang lain.
c.       Bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan yang diambilnya.
                  Kedua, mereka memiliki kekuatan terhadap pengaruh pihak lain yang ditandai oleh:
a.       Tidak mudah terpengaruh dalam situasi yang menuntut konformitas.
b.      Tidak mudah terpengaruh tekanan teman sebaya dan orang tua dalam mengambil keputusan.
c.       Memasuki kelompok sosial tanpa tekanan.
                  Ketiga, mereka memiliki rasa percaya diri (self reliance) yang ditandai oleh:
a.       Merasa mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah dan di sekolah.
b.      Merasa mampu memenuhi tanggung jawab di rumah dan di sekolah.
c.       Merasa mampu mengatasi sendiri masalahnya.
d.      Berani mengemukakan ide atau gagasan.

3)      Kemandirian Nilai
                   nilai (values autonomy) merupakan proses yang paling kompleks, tidak jelas bagaimana proses berlangsung dan pencapaiannya, terjadi melalui proses internalisasi yang pada lazimnya tidak disadari, umumnya berkembang paling akhir dan paling sulit dicapai secara sempurna dibanding kedua tipe kemandirian lainnya. Kemandirian nilai (values autonomy) yang dimaksud adalah kemampuan individu menolak tekanan untuk mengikuti tuntutan orang lain tentang keyakinan (belief) dalam bidang nilai.
                  Menurut Rest (Steinberg, 1995 : 307) kemandirian nilai berkembang selama masa remaja khususnya tahun-tahun remaja akhir. Perkembangannya didukung oleh kemandirian emosional dan kemandirian perilaku yang memadai. Menurut Steinberg (1993), dalam perkembangan kemandirian nilai, terdapat tiga perubahan yang teramati pada masa remaja. Pertama, keyakinan akan nilai-nilai semakin abstrak (abstract belief). Perilaku yang dapat dilihat ialah remaja mampu menimbang berbagai kemungkinan dalam bidang nilai. Misalnya, remaja mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada saat mengambil keputusan yang bernilai moral.   Kedua, keyakinan akan nilai-nilai semakin mengarah kepada yang bersifat prisip (principled belief). Perilaku yang dapat dilihat ialah (a) berpikir dan (b) bertindak sesuai dengan prinsip yang dapat dipertanggungjawabkan dalam bidang nilai.  Ketiga, keyakinan akan niali-nilai semakin terbentuk dalam diri remaja sendiri dan bukan hanya dalam sistem nilai yang diberikan oleh orang tuanya atau orang dewasa lainnya (independent belief). Perilaku yang dapat dilihat ialah (a) remaja mulai  mengevaluasi kembali keyakinan dan nilai-nilai yang diterimanya dari orang lain, (b) berpikir sesuai dengan keyakinan dan nilainya sendiri, dan (c) bertingkah laku sesuai dengan 11 keyakinan dan nilainya sendiri. Misalnya remaja menggali kembali nilai-nilai yang selama ini diyakini kebenarannya. Upaya remaja ini hakekatnya merupakan proses evaluasi akan nilai-nilai yang diterimanya dari orang lain. Sebagian besar perkembangan kemandirian nilai dapat ditelusuri pada karakteristik perubahan kognitif. Dengan meningkatnya kemampuan rasional dan makin berkembangnya kemampuan berpikir hipotetis remaja, maka timbul minatminat remaja pada bidang-bidang ideologi dan filosofi  dan cara mereka melihat persoalan-persoalan semakin mendetail. Oleh karena  proses itu maka perkembangan kemandirian nilai membawa perubahan-perubahan pada konsepsikonsepsi remaja tentang moral, politik, ideologi, dan persoalan-persoalan agama (Steinberg, 1993 : 303).  Secara sekuensial perkembangan kemandirian nilai mempersyaratkan perkembangan kemandirian emosional (emotional autonomy) dan kemandirian perilaku (behavioral autonomy).  Steinberg (1995 : 304)  menyatakan the growth of value autonomy is encouraged by the development of emotional and behavioral development as well. Kemandirian emosional membekali remaja dengan kemampuan untuk melihat pandangan orang tua mereka  secara lebih objektif  sedangkan kemandirian perilaku dapat menjadi bekal bagi remaja dalam upayanya mencari kejelasan dari nilai-nilai yang telah ditanamkan kepadanya (Steinberg, 1995). Oleh karena itu perkembangan kemandirian nilai berlangsung belakangan, umumnya pada masa remaja akhir  atau dewasa muda. Remaja akhir merupakan kesempatan bagi remaja untuk melakukan koreksi-koreksi, penegasan kembali, dan menilai ulang terhadap keyakinan-keyakinan dan  nilai-nilai yang mereka warisi sejak masih berada dalam ketergantungan masa kanak-kanaknya pada orang tua (Adelson, 1980; Steinberg, 1993, Berk, 1994).

D.   Perkembangan Kemandirian pada Remaja 
                  Kemandirian (autonomy) merupakan salah satu tugas perkembangan yang fundamental pada tahun-tahun perkembangan masa remaja. Steinberg (1995 : 286) menegaskan becoming an autonomous person – a self governing person – is one of the fundamental development tasks of the adolescent years. Disebut fundamental karena pencapaian kemandirian pada remaja sangat penting artinya dalam kerangka menjadi individu dewasa. Bahkan pentingnya kemandirian diperoleh individu pada masa remaja sama dengan pentingnya pencapaian identitas diri oleh mereka. Steinberg (1993 : 286)  menegaskan   for most adolescents, establishing a sense of autonomy is as important a part of becoming an adult as is establishing a sense of identity.  Oleh karena itu mereka begitu gigih dalam memperjuangkan kemandirian. Fasick (Rice, 1996 : 336) membahasakan perjuangan akan kemandirian mereka dengan ungkapan  one …… of every adolescent is to be accepted  as an autonomous adult. Sesungguhnya tidak mudah bagi remaja dalam memperjuangkan kemandiriannya. Kesulitannya terletak pada upaya pemutusan ikatan infantile yang telah berkembang dan dinikmati dengan penuh rasa nyaman selama masa kanak-kanak. Bahkan pemutusan ikatan infantile itu  seringkali menimbulkan reaksi yang sulit dipahami (misunderstood) bagi kedua belah pihak remaja dan orang tua (Rice, 1996). Terkadang remaja sering kali kesulitan dalam memutuskan simpul-simpul ikatan emosional  kekanak-kanakannya secara logis dan objektif.  Dalam upayanya itu mereka kadang-kadang harus menentang keinginan dan aturan orang tua. Orang tua terkadang mempersepsi upaya pemutusan simpul-simpul ikatan infantil yang dilakukan remaja sebagai pemberontakan atau peminggatan. Sekaitan dengan kesulitan remaja-orang tua  dalam memutuskan ikatan infantile dalam kerangka pencapaian kemandiriannya Steinberg (1995:286) menyatakan  autonomy is often confused with rebellion, and becoming an independent  person is often equated with  breaking away from the family.Dalam analisis Steinberg (1995 : 290) jika remaja,  terutama remaja awal, mampu memutuskan simpul-simpul ikatan infantile maka ia akan melakukan separasi, yakni pemisahan diri dari keluarga. Keberhasilan dalam melakukan separasi inilah yang merupakan dasar bagi pencapaian kemandirian terutama kemandirian yang bersifat  independence. Dengan kata lain kemandirian yang pertama muncul pada diri individu adalah kemandirian yang bersifat independence, yakni lepasnya ikatan-ikatan emosional infantile individu sehingga ia dapat menentukan sesuatu tanpa harus selalu ada  dukungan emosional dari orang tua. Oleh karena itu pada masa remaja ada suatu pergerakan kemandirian yang dinamis dari ketidakmandirian individu pada masa kanak-kanak   menuju kemandirian yang lebih bersifat autonomy pada masa dewasa. Steinberg (1995 : 286) menyatakan  during adolescence, there is a movement away from the dependency typical of childhood toward the autonomy typical of adulthood.   Kemandirian emosional berkembang lebih awal dan menjadi dasar bagi perkembangan kemandirian behavioral dan nilai. Sembari individu mengembangkan secara lebih matang kemandirian emosionalnya, secara perlahan ia mengembangkan kemandirian behavioralnya. Perkembangan kemandirian emosional dan behavioral tersebut menjadi dasar bagi perkembangan kemandirian nilai. Oleh karena itu, pada diri individu kemandirian nilai berkembang lebih akhir dibanding kemandirian emosional dan behavioral.
                  Munculnya tugas-tugas perkembangan, bersumber pada faktor-faktor berikut:
1.      Kematangan fisik, misalnya (a) belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki; (b) belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
2.      Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya (a) belajar membaca; (b) belajar menulis; (c) belajar berhitung; (d) belajar berorganisasi.
3.      Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri, misalnya (a) memilih pekerjaan; (b) memilih teman hidup.
4.      Tuntutan norma agama, misalnya (a) taat beribadah kepada Alloh; (b) berbuat baik kepada sesame manusia.
                  Tugas-tugas perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat bermanfaat bagi individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut:
1.      Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu.
2.      Memberikan motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya.
3.      Menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki tingkat perkembangan berikutnya.
                  Tugas-tugas perkembangan ada yang dapat diselesaikan dengan baik, ada juga yang mengalami hambatan. tidak dapat diselesaikannya dengan baik suatu tugas perkembangan dapat menjadi suatu bahaya potensial yang menjadi penghambat penyelesaian tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut :
1.      Harapan-harapan yang kurang tepat, baik individu maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku di luar kemampuan fisik maupun psikologis.
2.      Melangkahi tahap-tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu.
3.      Adanya krisis yang dialami individu karena melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lain.
                  Masa perkembangan remaja juga ditandai dengan keinginan mengaktualisasikan segala ide pikiran yang dimatangkan selama mengikuti pendidikan. Mereka bersemangat untuk meraih keberhasilan. Oleh karena itu, mereka berlomba dan bersaing dengan orang lain guna membuktikan kemampuannya. Segala daya upaya yang berorientasi untuk mencapai keberhasilan akan selalu ditempuh dan diikuti. Sebab dengan keberhasilan itu, ia akan meningkatkan harkat dan martabat hidup mereka di mata orang lain.

E.    Masalah yang Timbul pada Masa Remaja
                  Singgih (1988) menyatakan bahwa Pada masa perkembangan, remaja dihadapkan oleh berbagai masalah, diantaranya yaitu:
1.      Perkembangan fisik dan psikomotorik
      Masalah remaja yang muncul berkaitan dengan perkembangan fisik dan psiko-motorik. Misalnya: matangnya organ reproduksi. Pada permasalahan ini, remaja membutuhkan pemuasan biologis, kalau tidak terbimbing oleh norma-norma tertentu dapat mendorong remaja melakukan masturbasi, homosexual, atau mencoba hetero-sexual yang mungkin berakibat lebih jauh lagi berkembang penyakit kelamin, disamping merupakan pelanggaran atas norma kesusilaan.
2.      Perkembangan bahasa dan perilaku kognitif
      Bagi individu-individu tertentu, mempelajari bahasa asing bukanlah merupakan hal yang menyenangkan. Kelemahan dalam fonetik misalnya, juga dapat menjadi bahan cemoohan, yang bukan mustahil berakibat sikap negatif terhadap pelajaran dan guru bahasa asing yang bersangkutan, benci pelajarannya dan juga terhadap gurunya.
3.      Perkembangan perilaku sosial, moralitas, dan keagamaan
      Dalam kehidupan remaja yang masih mempunyai kelabilan dalam berpikir, remaja cenderung melakukan perbuatanperbuatan yang justru bertentangan dengan norma masyarakat atau agamanya, seperti mengisap ganja, mencuri.
4.      Perkembangan perilaku afektif, konatif, dan kepribadian
      Ketidakmampuan menegakkan kata hatinya membawa akibat sukar terintegrasikan dan sintesi fungsifungsi psikofisiknya, yang berlanjut akan sukar pula mene-mukan identitas pribadinya. Ia akan hidup dalam suasana adolescencetisme (remaja yang berkepanjangan) meskipun usianya sudah menginjak dewasa.
                  Sugiyo (1995: 106) menegaskan bahwa problematik dalam diri kaum muda sendiri umumnya berpangkal pada penampilan psikis dan fisik mereka yang masih serba labil dan terbuka pada pengaruh luar yang diserap lewat media komunikasi pergaulan, misalnya kenaifan seksualitas, upaya aktualisasi diri yang kurang mendapat tanggapan dan pengakuan, konflik sekitar kebebasan, kurang menyadari potensi dan mengenal diri, rasa rendah diri, kurang atau tak adanya kesempatan mengenyam pen-didikan bagi sebagian kaum muda pedesaan dan mereka yang "tak punya", juga pengaruh dari perkawinan dini, kurangnya kesadaran dan upaya mengubah sistem adat yang menghambat perkembangan pribadi, kesulitan sekitar perumahan, lingkungan belajar, dan pergaulan bagi mereka yang datang dari desa ke kota besar. Semuanya itu mengakibatkan kaum muda menjadi gelisah, bingung, tidak pasti, dan masa depan suram.



F.    Implikasi Masalah Remaja dengan Pendidikan
                  Conger (dalam Abin, 1975: 11) menegaskan bahwa pemahaman dan pemecahan masalah yang timbul pada masa remaja harus dilakukan secara interdisipliner dan antar lembaga. Meskipun demikian, pendekatan dan pemecahannya dari pendidikan merupakan salah satu jalan yang paling efektif dan strategis, karena bagi sebagian besar remaja bersekolah dengan para pendidik, khususnya para guru, banyak mempunyai kesempatan berkomunikasi dan bergaul.
                  Diantara usaha-usaha pembinaan yang perlu di perhatikan, sekurang-kurang-nya untuk mengurangi kemungkinan tumbuhnya permasalahan yang timbul pada masa remaja, dalam rangka kegiatan pendidikan yang dapat dilakukan para pendidik umumnya dan para guru khususnya:
a.       Hendaknya seorang guru mengadakan program dan perlakuan layanan khusus bagi siswa remaja pria dan siswa remaja wanita (misalnya dalam pelajaran anatomi, fisi-ologi dan pendidikan olahraga) yang diberikan pula oleh para guru yang dapat me-nyelenggarakan penjelasannya dengan penuh dignity. Tujuan dari usaha tersebut ada-lah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan fisik dan psikomotorik remaja.
b.      Memperhitungkan segala aspek selengkap mungkin dengan data atau informasi secermat mungkin yang menyangkut kemampuan dasar intelektual (IQ), bakat khusus (aptitudes), disamping aspirasi atau keinginan orangtuanya dan siswa yang bersang-kutan. Terutama pada masa penjurusan atau pemilihan dan penentuan program studi. Upaya tersebut bertujuan untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan bahasa dan perilaku kognitif.
c.       Seharusnya seorang guru bisa mengaktifkan dan mengkaitkan hubungan rumah dengan sekolah (parent teacher association) untuk saling mendekatkan dan menyela-raskan system nilai yang dikembangkan dan cara pendekatan terhadap siswa remaja serta sikap dan tindakan perlakuan layanan yang diberikan dalam pembinaannya. Tu-juannya adalah untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan perilaku social, moralitas dan kesadaran hidup atau penghayatan keagamaan.
d.      Seorang guru atau pendidik untuk memahami dan mengurangi masalah-masalah yang mungkin timbul bertalian dengan perkembangan fungsi-fungsi konatif, afektif dan kepribadian, seyogyanya seorang guru memberikan tugas-tugas yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, belajar menimbang, memilih dan mengambil ke-putusan /tindakan yang tepat akan sangat menunjang bagi pembinaan kepribadiannya.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
                  Masa perkembangan remaja ditandai dengan keinginan mengaktualisasikan segala ide pikiran yang dimatangkan selama mengikuti pendidikan. Mereka bersemangat untuk meraih keberhasilan. Karena itu, Mereka berlomba dan bersaing dengan orang lain guna membuktikan kemampuannya.
                  Laju proses perkembangan perilaku dan pribadi remaja dipengaruhi oleh tiga faktor dominan ialah faktor bawaan (heredity), kematangan (maturation), dan ling-kungan (environment) termasuk belajar dan latihan (training and learning). Ketiga faktor dominan utama itu senantiasa bervariasi yang mungkin dapat menguntungkan atau menghambat atau membatasi lajunya proses perkembangan tesebut.

B. Saran
                  Pada masa perkembangannya, remaja dihadapkan dengan berbagai masalah. Untuk itu seorang pendidik harus mengerti dan memahami setiap perubahan perilaku remaja dan membimbingnya dengan cara yang strategis efektif. Seorang guru juga harus menguasai setiap materi yang akan disampaikan kepada muridnya, dengan de-mikian akan terjalin komunikasi yang baik antara guru dan murid, sehingga seorang murid akan merasa enjoy dalam setiap proses belajar.



 

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, 2003 Media Pembelajaran, Jakarta: Dirjen Dikdasmen









 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar